Sabtu, 14 September 2013

Kisah Cinta Pertama





Sebenarnya aku malu kalau menceritakan tentang cinta pertama dalam arti yang “senyatanya”. Ya, maksudku cinta dengan lawan jenis untuk pertama kalinya. Mungkin yang disebut-sebut dengan cinta monyet itu lho... hehe.. Tapi aku suka kepolosan, maka aku pun akan bercerita tentang “cinta pertamaku” itu. Boleh dilanjut, kalau teman-teman mau tahu tentang ceritaku. . So, enjoy aja... ini buat lucu-lucuan mengenang masa lalu :)

Namanya Endri. Sosoknya pendiam dan cerdas. Lelaki kecil berseragam putih biru itu selalu menarik hatiku. Rambutnya yang ikal dan sorot matanya yang tajam, membuatku terpesona. Aku mengenalnya sejak kelas 1 SMP, karena kami memang sekelas. Dan yang membuat aku senang adalah karena nomer absensi kami berurutan. Aku nomer 11, dia nomer 12 (itu di kelas 1 dan kelas 3, sedangkan di kelas 2, aku nomer 23 dan dia 24). So, what? Hehe.. Itu menjadi spesial dikarenakan karakterku sama dengan dia: pendiam.

Maka dengan nomer yang berurutan seperti itu adalah hal yang menguntungkan bagiku yang pendiam. Sehingga momen-momen yang paling indah dan selalu kutunggu adalah: saat-saat ujian Catur Wulan (istilah semacam ujian semester waktu itu)! Tentu saja karena aku bisa berinteraksi dengannya di saat-saat itu. Kami saling bekerjasama, karena aku pasti duduk di depan atau di belakangnya. Ya, hanya itu. Hanya dalam waktu-waktu yang singkat dan terbatas seperti itulah aku kadang berbicara dengannya. Dengan saling bertanya tentang soal-soal ujian, aku bisa mendengar suaranya, tatap matanya, dan senyumnya. Bagiku itu hal yang langka dan selalu kusimpan dalam ingatan. Dan pastinya aku bahagia sekali. Kami pun saling berkejaran dalam hal prestasi. Kami hampir selalu menjadi penghuni 3 besar di kelas. Ah, aku bahagia. Entah bagaimana dengannya.

Begitulah waktu demi waktu kulalui di SMP. Dan aku, tetaplah aku sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku tetap seorang yang pendiam. Pun dirinya. Tiga tahun kebersamaan kami, aku tak pernah berusaha untuk mengutarakan maksud hatiku padanya. Mungkin itu hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan. Karena dia pun tak pernah melakukannya untukku. Hanya isyarat-isyarat dari tingkah lakunya padaku yang sedikit menghibur hatiku. Aku selalu berprasangka kalau dia juga memiliki perasaan yang sama sepertiku.

Hingga akhirnya masa perpisahan itu datang juga. Kami lulus dari SMP. Aku hanya bisa mengucapkan kata “selamat” kepadanya. Rasanya ingin kuungkapkan perasaanku, tapi aku ragu. Dan aku takut. Apalagi aku seorang perempuan? Hemm... rasa cinta (atau apalah itu namanya) yang kupendam selama 3 tahun, tetap terkubur hingga aku berpisah dengannya. Waktu itu aku hanya pasrah, kalau toh dia jodohku, biarkan waktu yang akan mempertemukan kami suatu hari nanti (meski semua itu akhirnya tak pernah terjadi :) ).

Ada rasa penyesalan atas apa yang aku lakukan dalam 3 tahun itu. Tapi aku memang tak punya keberanian yang cukup. Aku pengecut. Bahkan beberapa tahun setelahnya, aku masih menyimpan rasa rindu terhadap lelaki kecil yang pernah kukenal itu. Bagaimana kabarnya? Di mana dia sekarang? Mungkin jika aku dulu pernah mengatakan rasaku padanya, aku akan tahu dengan pasti apakah dia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Aku akan tahu jawabannya dan tak perlu selalu teringat kembali tentangnya.

***

Itulah sekelumit kisah cinta yang kupendam untuk pertama kalinya. Pertama kali aku merasakan jatuh cinta, dan tak pernah terungkapkan pada orang yang dimaksud. Hanya lewat tulisan seperti ini perasaanku dapat terurai. Namun kini, satu hal yang kusyukuri adalah justru ketidakberanianku itu sendiri.

Sejak SD aku telah mempunyai pemahaman bahwa pacaran itu dilarang oleh agama. Kata bapak, aku harus pandai menjaga pergaulan dengan lawan jenis: aku tidak boleh pacaran. Tetapi yang namanya masih remaja, pemberontakan batin itu hampir pasti ada jika seorang remaja dilarang untuk pacaran. Jatuh cinta itu manusiawi, pun yang terjadi denganku.

Namun seiring berjalannya waktu dan bertambah pula pengetahuan agamaku, aku pun kemudian bersyukur, karena waktu itu aku hanya menyimpan rasa cintaku di dalam hati. Seandainya aku sampaikan rasa itu pada dia, apa yang akan terjadi? Mungkin aku benar-benar akan pacaran, backstreet-backsreet-an, dan bertambah banyaklah dosa-dosaku. Pelan-pelan aku menyadari, cukuplah rasa indah yang pernah singgah di dalam hatiku yang masih belia itu, menjadi kenangan semata. Tak perlu disesali, karena semua yang terjadi padaku tentu atas rencana Allah Yang Maha Bijaksana :)

Sebenarnya aku malu kalau menceritakan tentang cinta pertama dalam arti yang “senyatanya”. Ya, maksudku cinta dengan lawan jenis untuk pertama kalinya. Mungkin yang disebut-sebut dengan cinta monyet itu lho... hehe.. Tapi aku suka kepolosan, maka aku pun akan bercerita tentang “cinta pertamaku” itu. Boleh dilanjut, kalau teman-teman mau tahu tentang ceritaku. So, enjoy aja... ini buat lucu-lucuan mengenang masa lalu :)

Namanya Endri. Sosoknya pendiam dan cerdas. Lelaki kecil berseragam putih biru itu selalu menarik hatiku. Rambutnya yang ikal dan sorot matanya yang tajam, membuatku terpesona. Aku mengenalnya sejak kelas 1 SMP, karena kami memang sekelas. Dan yang membuat aku senang adalah karena nomer absensi kami berurutan. Aku nomer 11, dia nomer 12 (itu di kelas 1 dan kelas 3, sedangkan di kelas 2, aku nomer 23 dan dia 24). So, what? Hehe.. Itu menjadi spesial dikarenakan karakterku sama dengan dia: pendiam.

Maka dengan nomer yang berurutan seperti itu adalah hal yang menguntungkan bagiku yang pendiam. Sehingga momen-momen yang paling indah dan selalu kutunggu adalah: saat-saat ujian Catur Wulan (istilah semacam ujian semester waktu itu)! Tentu saja karena aku bisa berinteraksi dengannya di saat-saat itu. Kami saling bekerjasama, karena aku pasti duduk di depan atau di belakangnya. Ya, hanya itu. Hanya dalam waktu-waktu yang singkat dan terbatas seperti itulah aku kadang berbicara dengannya. Dengan saling bertanya tentang soal-soal ujian, aku bisa mendengar suaranya, tatap matanya, dan senyumnya. Bagiku itu hal yang langka dan selalu kusimpan dalam ingatan. Dan pastinya aku bahagia sekali. Kami pun saling berkejaran dalam hal prestasi. Kami hampir selalu menjadi penghuni 3 besar di kelas. Ah, aku bahagia. Entah bagaimana dengannya.

Begitulah waktu demi waktu kulalui di SMP. Dan aku, tetaplah aku sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku tetap seorang yang pendiam. Pun dirinya. Tiga tahun kebersamaan kami, aku tak pernah berusaha untuk mengutarakan maksud hatiku padanya. Mungkin itu hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan. Karena dia pun tak pernah melakukannya untukku. Hanya isyarat-isyarat dari tingkah lakunya padaku yang sedikit menghibur hatiku. Aku selalu berprasangka kalau dia juga memiliki perasaan yang sama sepertiku.

Hingga akhirnya masa perpisahan itu datang juga. Kami lulus dari SMP. Aku hanya bisa mengucapkan kata “selamat” kepadanya. Rasanya ingin kuungkapkan perasaanku, tapi aku ragu. Dan aku takut. Apalagi aku seorang perempuan? Hemm... rasa cinta (atau apalah itu namanya) yang kupendam selama 3 tahun, tetap terkubur hingga aku berpisah dengannya. Waktu itu aku hanya pasrah, kalau toh dia jodohku, biarkan waktu yang akan mempertemukan kami suatu hari nanti (meski semua itu akhirnya tak pernah terjadi :) ).

Ada rasa penyesalan atas apa yang aku lakukan dalam 3 tahun itu. Tapi aku memang tak punya keberanian yang cukup. Aku pengecut. Bahkan beberapa tahun setelahnya, aku masih menyimpan rasa rindu terhadap lelaki kecil yang pernah kukenal itu. Bagaimana kabarnya? Di mana dia sekarang? Mungkin jika aku dulu pernah mengatakan rasaku padanya, aku akan tahu dengan pasti apakah dia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Aku akan tahu jawabannya dan tak perlu selalu teringat kembali tentangnya.

***

Itulah sekelumit kisah cinta yang kupendam untuk pertama kalinya. Pertama kali aku merasakan jatuh cinta, dan tak pernah terungkapkan pada orang yang dimaksud. Hanya lewat tulisan seperti ini perasaanku dapat terurai. Namun kini, satu hal yang kusyukuri adalah justru ketidakberanianku itu sendiri.

Sejak SD aku telah mempunyai pemahaman bahwa pacaran itu dilarang oleh agama. Kata bapak, aku harus pandai menjaga pergaulan dengan lawan jenis: aku tidak boleh pacaran. Tetapi yang namanya masih remaja, pemberontakan batin itu hampir pasti ada jika seorang remaja dilarang untuk pacaran. Jatuh cinta itu manusiawi, pun yang terjadi denganku.

Namun seiring berjalannya waktu dan bertambah pula pengetahuan agamaku, aku pun kemudian bersyukur, karena waktu itu aku hanya menyimpan rasa cintaku di dalam hati. Seandainya aku sampaikan rasa itu pada dia, apa yang akan terjadi? Mungkin aku benar-benar akan pacaran, backstreet-backsreet-an, dan bertambah banyaklah dosa-dosaku. Pelan-pelan aku menyadari, cukuplah rasa indah yang pernah singgah di dalam hatiku yang masih belia itu, menjadi kenangan semata. Tak perlu disesali, karena semua yang terjadi padaku tentu atas rencana Allah Yang Maha Bijaksana :)